Kamis, 09 Agustus 2012

Hangatnya Cinta Ayahku Sebesar Cinta Ibuku [renungan]


[imagetag]





Jika cinta seorang ibu diibaratkan seperti madu yang manis, maka cinta seorang ayah adalah segelas teh hangat yang menenangkan. Rasanya memang tak semanis madu, tetapi ada kenyamanan dan kehangatan di sana. Inilah kisahku tentang seorang ayah yang hebat.




Namaku Tia, sekarang usiaku 22 tahun. Ibu meninggal saat aku berusia 5 tahun karena mengalami pendarahan saat mengandung adikku. Kejadian itu memisahkan aku dengan ibu dan calon adikku selamanya. Otomatis, hanya ada aku dan ayah yang menjadi bagian dari keluarga kecil ini setelah kepergian ibu.




Aku melewati masa kecil yang membahagiakan bersama ayah. Sebagai orang tua tunggal, ayah mendapat bantuan dari seorang pengasuh sekaligus pembantu rumah tangga untuk menjagaku saat ayah bekerja. Sedangkan saat malam tiba, secapek apapun setelah pulang kerja, ayah selalu berada di sampingku untuk membacakan dongeng sebelum aku tidur.




Sebagai orang tua tunggal, ayah berusaha sangat keras untuk menjadi ayah sekaligus ibu bagiku. Ayah tidak keberatan membantuku mengerjakan PR, belajar mengaji atau bermain petak umpet di hari minggu. Aku masih ingat dengan pelukan hangat ayah saat aku menangis karena teman-teman selalu pulang sekolah dijemput ibu, sedangkan aku dijemput bibi (pengasuhku).




Saat aku kecil, aku memang iri dengan teman-temanku yang masih bisa memeluk ibu mereka. Aku berkali-kali bertanya pada ayah kenapa Tuhan mengambil ibu. Ayah bilang, karena Tuhan tahu apa yang terbaik untuk ibu, untuk ayah dan untukku.




"Tapi Tia kangen ibu," selalu begitu rengekanku pada ayah.




Jika sudah begitu, akan akan memeluk dan mengusap pelan punggungku. "Kan masih ada ayah yang sayang Tia," jawab ayah.




Dengan pelukan itu saja, aku sudah bisa tersenyum dan kembali merasakan pelukan ibu yang lama tidak kurasakan. Seperti ada sentuhan tangan ibu di sana, dalam pelukan ayahku. Karena itulah aku sangat menjaga ayah dalam versi pemikiran seorang anak kecil. Saat itu, aku tidak mau jika ayah menikah lagi. Aku tidak mau punya ibu tiri yang jahat seperti Cinderella atau ibu tiri kejam seperti kisah Bawang Merah dan Bawang Putih.




Entah karena ingin memenuhi permintaanku atau tidak, ayah tidak menikah untuk kedua kalinya. Aku tahu ayah sangat mencintai mendiang ibu. Sering aku melihat ayah menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di ruang keluarga. Ayah tidak pernah mengatakan apapun, tetapi dari tatapan mata dan lengkung senyumnya, aku tahu ayah selalu merindukan ibu.





[imagetag]





Satu hal yang membuatku kagum pada ayah adalah sikapnya yang tidak pernah malu melakukan berbagai tugas wanita. Misalnya saja, mengikat rambutku dengan model ekor kuda atau mengepangnya. Jujur, hasil ekor kuda atau kepang ayah tak pernah sebagus dan serapi ibuku, tetapi aku sangat menghargainya. Bagiku, tidak ada hasil kepang sebaik yang dilakukan ayah.




Dari semua peristiwa yang sudah aku lewati bersama ayah, yang paling membekas adalah saat aku mendapat menstruasi pertama. Aku tahu aku akan mengalaminya dari penjelasan guruku di sekolah, tetapi saat aku benar-benar mengalaminya, aku panik. Sekali lagi, ayah yang menenangkanku. Beliau menjelaskan apa yang terjadi padaku tanpa terlihat canggung. Hal itu sangat membantuku, karena aku masih nol besar untuk tahu perubahan apa yang akan terjadi pada tubuhku.




Hingga saat ini, aku sangat menghargai apa yang dilakukan ayah saat itu. Bukan hal yang mudah bagi seorang ayah untuk menjelaskan apa itu menstruasi pada anak perempuannya. Termasuk bagaimana cara menjaga kehormatan karena aku sudah memasuki proses menjadi wanita dewasa. Rasa hormatku semakin bertambah. Tentunya tanpa menghilangkan rasa hormatku pada mendiang ibu.




Masa puber dan remaja aku lewati tanpa masalah berarti. Sekali lagi, ayah yang menjagaku. Ketika aku mulai mengenal apa itu jatuh cinta, ayah juga yang selalu mendengarkan sekaligus memberi informasi seperti apa sikap seorang pemuda yang baik. Jika remaja putri pada umumnya menjauhi orang tua dan lebih dekat dengan teman-temannya, aku tetap dekat dengan ayah.




"Kenapa ayah tidak menikah lagi? Supaya bisa makan enak setiap hari," tanyaku pada suatu hari. Aku sudah cukup dewasa, ayah juga tidak sekuat dulu. Aku pikir, tidak masalah jika ayah menikah lagi agar ada seseorang yang menemaninya. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa menjamin bisa berada di samping ayah sepanjang waktu. Rasanya sangat egois jika aku masih memintanya untuk tidak menikah lagi.




Ayah hanya tersenyum dan menjawab, "Egois sekali jika ayah menikahi seorang wanita hanya karena ingin makan enak setiap hari." Aku tahu, hingga saat ini, ayah masih mencintai dan merindukan ibu.




Kini, usiaku 22 tahun, beberapa bulan lagi aku akan mendapat gelar sarjana. Ada banyak harapan agar aku bisa membahagiakan ayah. Setidaknya sedikit saja, karena aku tidak yakin bisa menggantikan cinta dan kasih sayang ayah yang sangat luar biasa.




Ayahku bukan ayah yang sempurna, aku tahu itu, tetapi cinta dan kasih sayangnya selalu membekas untukku. Sekarang, aku sudah terlalu dewasa untuk mendapat kepang atau rambut ekor kuda dari ayah. Ah.. betapa aku merindukan masa-masa sekolah dasar dulu.




Sahabat, cinta dan kasih sayang seorang ibu memang tidak akan habis, ada surga di sana. Tetapi jangan lupakan sosok seorang ayah yang memberikan cintanya pada Anda.




Seorang ayah tidak akan mengatakan bahwa dia mencintai Anda, dia akan membuktikannya dengan perbuatan

. Demitri The Stoneheart
 Sumber


#ad2fcb

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar