Senin, 20 Februari 2012

Pengaruh Passion Dalam Berbicara

Pernahkah Anda memperhatikan olah raga khas orang Nias? Melompat rintangan setinggi lebih dari dua meter. Selain latihan, apa yang membuat mereka bisa melakukannya?

Pernahkan Anda mendengar cerita sejenis ini: Seseorang yang sedang dikejar anjing, bisa melompati parit yang lebarnya lebih dari tiga meter? Selain, terpaksa, apa yang membuat ia bisa melakukannya?

Passion alias semangat!

Saya dan teman-teman pernah mewawancarai Aa Gym di studio RCTI yang ada ada di Jakarta Utara. Menurut informasi yang kami terima, beliau akan melaksanakan shooting untuk acara Hikmah Fajar. Dari pagi sampai sore.

Sekitar pukul tujuh pagi, kami sudah berada di sana. Menanti "buruan" kami. Kami harus mencoba menyela acara beliau untuk wawancara kami sepagi mungkin. Agar kami tak harus menunggu hingga sore hari.

Sekitar pukul delapan kurang seperempat, beliau pun tiba. Menumpang Mazda E2000 yang sering dipakainya untuk kesana kemari. Kami bergegas menuju ke mobilnya, menunggu di dekat pintu. Beliau pun keluar. Apa yang kami lihat?
Beliau keluar dengan menenteng botol infus, dan sekalian dengan selang dan jarumnya yang masih menancap di tangan! Beliau sedang sakit!

Aa Gym turun, mencabut sendiri jarum infus, menyerahkan selang dan botol infus itu ke tangan stafnya, berjalan menuju ruang rias lalu shooting sampai jam duabelas siang! Setelah istirahat dan sholat, beliau melanjutkan shooting sampai jam lima sore. Kami hanya bisa menunggu sampai semuanya selesai.

Lewat beberapa menit setelah jam lima sore, kami mencoba lagi. Kali ini kami bahkan nekat dengan langsung masuk ke mobil beliau dan duduk di sebelahnya (maaf A'). Apa kata beliau? "Saya sedang sakit. Besok saja ya di Kebayoran Baru (DT Jakarta)?"

Q: Pernahkah kita melihat Aa Gym nampak sakit di televisi?
A: Tidak!

Aa Gym bisa melakukannya, dengan bantuan sebuah anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya, yaitu passion, alias motif, alias semangat, alias niat.

Ada lagi. Dan yang ini adalah kisah nyata Saya sendiri.

Seperti biasa, Saya membawakan sebuah training di Hotel Mulia Senayan. Tapi hari itu Saya akan ditemani oleh teman Saya yang juga trainer.

Kebiasaan kami setiap minggu adalah menginap satu atau dua hari di kantor. Malam sebelum training itu juga. Dan teman Saya itu juga.

Seingat Saya, sejak lepas Isya malam itu Ia terus-menerus mengeluhkan sakit giginya yang kumat lagi. Dan itu terus berlangsung sampai pagi hari di lobi hotel. Di hari teman Saya itu harus mengisi training.

Apa yang Saya lihat?

Begitu Ia mulai bicara, Saya tidak melihatnya sakit gigi lagi. Bayangkan, sakit gigi!

Saya hanya melihatnya meringis-ringis lagi saat lunch break dan sore harinya. Sampai kami kembali lagi ke kantor.

Passion alias semangat bahkan bisa "menyembuhkan" sakit yang rasanya tak tertanggungkan bila tidak sedang bicara.

Dua kisah nyata di atas itulah yang membuat Saya mengambil keputusan untuk hari ini.

Dari kemarin, Saya sedang tidak enak badan. dan hari ini Saya hanya ingin diam di kantor. Tak hendak kemana-mana. Malas sekali rasanya. Saya hanya ingin utak-atik mengurusi milis saja. Dan nanti Sore, jam empat tepatnya, Saya ada janji presentasi ke sebuah perusahaan calon klien di bilangan Tendean.

Awalnya, Saya emoh banget dan sangat ingin mereskedul presentasi itu. Tapi sekarang, Saya memutuskan, Saya akan melakukannya!

Doakan.
Ikhwan Sopa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar