Senin, 07 Februari 2011

Saat Tuhan Menguji Kita

Tuhan menguji kita. Tuhan memberikan sesuatu yang kita anggap cobaan, padahal itu adalah wujud kasih sayangNya. Banyak cara jika Tuhan ingin memberi ujian pada umatNya, sulit kita duga, karena itu adalah salah satu rahasiaNya. Siapkah kita? Tentang badai kemanusiaan yang sedang terjadi, di Temanggung baru - baru ini tentang penistaan Islam, yang berdampak pada perusakan dan pembakaran gereja - gereja Katholik dan Protestan serta satu lagi yang masih terngiang, yakni perusakan dan pembunuhan kepada warga penganut Ahmadiyah di Banten.


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah - buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang - orang yang sabar. ( Al-Baqarah 155 )

Sayangnya, saat melakukan itu semua, tak lupa mereka meneriakkan asma Allah Swt: Allahu Akbar! bagiku, satu hal yang ironis, karena Allah Swt tak pernah merestui dan membenarkan perusakan atau bahkan pembunuhan pada sesama manusia dan sesama mahlukNya. Tak ada sabar apalagi rasa kasihan, seolah mereka semua menganggap tindakan mereka benar! Aliran mereka salah! Benar dan salah dalam hal keyakinan, bagiku, adalah hak Allah Swt melakukan pengadilan, bukan kita manusia ciptaanNya yang tergolong lemah. Apa hak kita mampu melebihi hak Allah Swt?

Sering kita dengar kata - kata bernada nasihat baik, ini dan itu, yang pada intinya tak sejalan dengan pemberi nasihat baik, maka, Allah Swt akan mengujinya, dengan berupa apa yang dia nasihatkan. Sekedar contoh, dahulu Kyai Abdullah Gymnastiar atau A'a Gym pernah bilang: Anti poligami! Apa yang terjadi akhir - akhir ini? Allah Swt terbukti menguji beliau, dengan menikahi wanita lain, selain Teh Nini. Walau ujian belum berakhir, yakni dengan perceraian beliau dengan Teh Nini, sang anak Kyai. Itulah ujian Allah Swt dalam hal kecil.

“ Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah. ”

Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”. Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.

Jadi, cobalah kita hindari syirik kecil bahkan besar, agar tetap dalam ridhoNya dan menjadi bagian dari keindahan surga abadiNya kelak saat ajal menjemput.

Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami / istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.

Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”

Teruslah bergerak
Hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu.
Teruslah berlari
Hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu.
Teruslah berjalan
Hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu.
Teruslah bertahan
Hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu
Teruslah berjaga
Hingga KELESUAN itu LESU menemanimu.
( Alm. Ust. Rahmat Abdullah )

Semoga Allah meridhai perjuangan ini, dan memberikan yang terbaik.
Allahumma yassir wala tu'asir.
Bismillah, tawakaltu 'alallaah
laa hawlaa walaa quwwata ilaa billaah..


Ref: Belantara Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar